Menarik, kata yang terucap setelah melihat sebuah dialog TVRI tentang kontoversi iklan pahlawan PKS. Iklan yang mebuat heboh tanah air beberapa pekan. Seorang pakar komunikasi mengatakan: sungguh kreatif PKS si pembuat iklan. Mereka cerdas karena mampu menghasilkan momen dan menciptakan kreasi. Bukan mengikuti reaksi, sebagaimana orang yang gemar mengikuti arus kebanyakan. Hasilnya: iklan beberapa menit namun gaungnya berminggu-minggu.
-saya cantumkan link dialog iklan pahlawan di-bawah tulisan ini-
Iklan yang mencantumkan Suharto, itulah yang membuat kontroversi. Menurut Anis Matta, sekjen PKS, iklan itu dibuat dalam kerangka besar rekonsiliasi bangsa. Sepuluh tahun reformasi belum menghasilkan kesejahteraan bangsa sebagaimana yang diharapkan. Kesalahan sejarah selalu terulang, karena orde reformasi bagaikan antitesa orde baru. Sebagaimana dulu orde baru membuat antitesa orde lama.
Para pengamat berpandangan lain. Apapun alasannya, jangan menggunakan sosok kontroversial di dalam sebuah iklan. Biar bagaimanapun, sosok Suharto masih menyisakan luka bagi sebagian orang. Bagi mereka iklan itu menjadi begitu menyakitkan. Tuduhan pun datang bergelombang. PKS dituding melukai semangat reformasi.
Sebuah fakta menarik muncul di akhir dialog. Ketika masyarakat secara random ditanya tentang sosok Suharto. Semua menjawab, Pak Harto layak dihargai sebagai pahlawan. Karena jasa Pak Harto yang tidak bisa diabaikan bagi bangsa dan negara. Pahlawan ‘hanyalah’ simbol bagi manusia yang tak terlepas dari kekurangan. Pahlawan tetap ada karena kerja dan jasa besar yang telah diberikan, terlepas dari kekurangan mereka para penyandangnya.
Suka tidak suka begitulah masyarakat menilai. Seringkali memang kita terjebak pada keakuan diri memandang. Sehingga baik buruk sering berada pada tempat berbeda yang terkotak-kotak. Tidak seluruhnya terlihat dalam satu tempat. Ketika keburukan menjadi target penglihatan, kebaikan menjadi terbuang. Itulah kesalahan bangsa dalam melakoni sejarah sejak orde lama, orde baru, dan terakhir orde reformasi.
Pencerahan iklan pahlawan yang disampaikan dalam dialog tersebut adalah ide besar sintesa bukan antitesa. Mengubur dalam-dalam semangat antitesa harus dimulai. Orde lama mengagungkan demokrasi namun lemah dalam kesejahteraan. Orde baru mengantitesa orde lama dengan menjunjung tinggi kesejahteraan dalam pembangunan, namun mengabaikan demokrasi. Saat ini, orde reformasi pun mengantitesa orde baru dengan hiruk pikuk perubahan yang tidak menentu. Reformasi bergerak tak beraturan. Setiap golongan saling tumbuk seperti gerak zig-zag Brown, bertabrakan, saling menumbuk, pusing, dan kemudian melemah.
Sejarah terus berulang. Akhirnya anak bangsa yang menjadi korban. Perselisihan antar generasi tak pernah pudar. Ide besar iklan pahlawan adalah sebuah sintesa rekonsiliasi. Mencoba mengubur dendam dan antitesa sejarah. Membangun negeri dengan sintesa semua kekuatan dan golongan.
Kesimpulan akhir dialog disampaikan. Pengamat politik Arbi Sanit memandang, kecenderungan rakyat ‘kecil’ menghormati Pak Harto karena kesejahteraan selama orde baru: Beras murah Dollar murah. Namun bagi rakyat ‘besar’ kesejahteraan adalah kebebasan berbicara. Disitulah kekurangan Pak Harto. Pada akhirnya, itulah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Sekarang tugas kita untuk melangkah, merajut masa depan. Membuat sintesa dari setiap kelebihan para pelaku sejarah. Bangkit negeriku, harapan itu masih ada!
Eko Hardjanto
***
Orang yang sukses bersikap proaktif. Yang fokus pada hal-hal yang bisa mereka ubah dan tidak menguatirkan hal-hal yang tidak bisa mereka ubah. Orang proaktif akan selalu mencari jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana.
Orang yang gagal selalu bersikap reaktif. Mereka mudah tersinggung, cenderung menyalahkan orang lain, cepat marah dan mengucapkan kata-kata yang belakangan mereka sesali, suka mengeluh, menunggu segalanya terjadi kepada mereka dan berubah hanya kalau perlu
(Stephen Covey)
Link dialog:
Link 1
Link 2
Link 3
Link 4
Link 5
Tagged: Pahlawan, Suharto 28 November 2008
Tulisanku yang lalu
***
Ramadhan kedua di negeri asing. Jauh dari buah hati dan tambatan hati. Jauh dari ayah, ibu, dan adik-adik tercinta. Jauh dari saudara dan teman bercerita. Sejak beberapa hari sebelum Ramadhan, kucoba hubungi mereka, ‘tuk ucapkan salam, ma’af dan cinta.
(Hmm…sedikit sya’ir pendek, mengawali tulisan sederhana suasana hati)
Ramadhan tahun ini, walau bagaimanapun, masih patut aku syukuri. Terlalu berlebihan rasanya tanpa bersyukur, terlebih ini Ramadhan, bulan mulia. Satu syukur di antara seribu, ayah dan ibu masih diberi nikmat sehat, entah sampai kapan, hanya Allah yang tahu.
Kejadian sepuluh tahun lalu masih membekas dalam ingatan, aku duduk berdua bersama ibu, di sebuah warung makan sederhana. Kebahagiaan hati menyeruak melihat ibu bahagia, menikmati uang hasil kerjaku, gaji pertama. Betapa tidak, sekian lama ibu membesarkan, akhirnya, ia dapat melihat aku duduk di sisinya dengan segenap harapan.
Siapa yang menduga, satu tahun setelah masa itu, aku sudah berdua dengan istri tercinta, membina rumah tangga bahagia. Sejak itu, aku tak begitu dekat lagi denganmu, ibu.
Ayah, sejak lama aku tak terlalu akrab denganmu. Engkau sibuk dengan berbagai urusan, mencari nafkah hingga malam. Sering kudengar cerita ibu, sewaktu aku kecil, kau sering membawaku dalam setiap kerja. Sambil memelukku dan bercerita. Ayah, kini rambutmu telah memutih, tubuhmu semakin membungkuk, wajahmu tak lagi berseri. Belum mampu aku menafkahimu untuk pergi ke Tanah Suci.
Ayah.., ibu.., lebih 30 tahun usia diri, sering aku merenung, apa yang sudah kuberikan untukmu. Tak pernah lepas diri ini dari beban, yang membelenggu kebebasan untuk dekat denganmu.
Sebongkah kebahagiaan kumiliki, ayah dan ibu bercerita pada semua: aku tak pernah membuat mereka sakit hati. Sedikit senyumanku di balik renungan, ayah dan ibu bercerita pada semua: tak pernah aku menyusahkan. ‘Ah entahlah, aku hanya beharap, semoga benar demikian.
Tak sedikit manusia, mengagungkan takhyul, membiasakan syirik, memelihara pusaka. Demi harta, atau bahagia, kata mereka.
‘Ah itu semu.
Bagiku, ayah dan ibu, engkaulah pusaka, pusaka hidup-ku. Karena ridho-Nya adalah ridhomu, murka-Nya adalah murkamu.
***
Ya Allah, dalam Ramadhan ini, kupanjatkan do’a ke hadirat-Mu, ampunilah dosa ayah dan ibu
Ya Allah, dengarkan do’a masa kecilku, sempatkanlah aku membahagiakan ayah dan ibu sebelum Kau panggil mereka
Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kama rabbayaani shaghiiraa
Amsterdam, 3 Ramadhan, 1426 H
Eko Hardjanto
12 November 2008
Pemimpin Adalah Pelayan Bagi Rakyatnya
***
Jakarta setelah pukul 5 sore, wajah-wajah lelah penuhi stasiun kota. Pakuan Express lewat 5 menit, Aku tunggu kereta ekonomi delapan gerbong, buatan Jepang, sudah sangat tua. Di sisi stasiun, jalan raya Sudirman padat bau asap menyengat. Kendaraan merayap perlahan, bis kota miring ke kiri, tak ada yang peduli. Di dalam kereta, tak ada celah lagi, aku berdiri dekat pintu, sambil berharap angin segar menerpa wajah membuang bau. Manusia berjejal bagaikan sampah, di bawah sana Mercedez mewah melintas tak mau tahu.
Satu jam setengah perjalanan menuju rumah dimulailah cerita yang lain. Tak ada cerita kenyamanan, hanya wajah kusam di hadapan, diselingi lalu lalang penjaja makanan. Sekumpulan orang di pojok gerbong sempat-sempatnya menggelar tikar koran, duduk di lantai kotor kereta saling berhadapan. Dengan tawa dan canda mereka bermain domino mencari hiburan. Aku masih berdiri dekat pintu, terhimpit, semakin lama semakin terbawa ke dalam. Tak kuasa menahan arus masuk penumpang, di setiap stasiun deras menerjang.
Sepertiga perjalanan, Stasiun Kalibata, keringat mengucur deras. Wajah-wajah menegak ke atas, mulut megap-megap mencari nafas. Panas, berdesakan, seperti sekumpulan ikan. Basah sudah baju kemeja khas seorang konsultan, Aku tak peduli karena memang tak ada transportasi pilihan. Di bawah kaki-kaki berdiri menegang, seorang anak lusuh berlutut mengais sampah, membersihkan lantai kereta dengan selembar koran. Berharap uluran tangan penumpang sejumlah uang.
Dari kejauhan dalam kereta terdengar suara samar-samar sendu, seorang ibu dengan mata buta menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu entah apa, dia berharap belas iba. Sang ibu itu tanpa mata menggendong seorang bayi lugu, semua penumpang termangu bisu. Serentak beberapa tangan memberi uang recehan, berharap sang ibu teringankan dari beban.
Di Stasiun Pasar Minggu kereta berhenti lagi, arus masuk penumpang masih tak berkurang. Kondektur kereta, petugas PT. KAI, datang berdua, masuk ke dalam gerbong siap memeriksa. Kondektur meminta tiket kereta kepada setiap penumpang, penumpang bergeming, kondektur tak kuasa. Sebagian lain dengan wajah ngantuk pura-pura, membuang muka dari kondektur sambil berkata, ”Abu”, Abunement maksudnya. Sekali lagi kondektur tak kuasa memaksa. Aku tak berprasangka, walau sekian banyak penumpang mengatakan hal yang sama, ”Abu”. Kondektur lewat berjalan, seorang penumpang nyeletuk lucu, ” Abu, Abu Bakar kaliii..”. Aku tergelak menahan tawa, ‘ah ada-ada saja.
Kondektur masih memeriksa, di sudut gerbong sana seorang bapak mengeluarkan selembar uang ribuan, sebagai pengganti tiket yang tak dibeli. Untung-untungan, siapa tahu kondektur tak memeriksa hari ini. Uang ribuan masuk kantong kondektur, lagi-lagi aku tak mau berprasangka, semua penumpang sudah memaklumi.
Stasiun Depok lewat, gerbong kereta semakin lowong. Udara segar kembali menghembus badan dari jendela kereta yang bolong. Setelah satu jam perjalanan, aku rebahkan badan renggangkan kaki di tempat duduk kosong. Sekumpulan mahasiswa UI bekumpul di ujung gerbong, memepet tas pinggang mereka di depan badan, takut pencopet. Kereta terus melaju kencang, jarak antara stasiun sekarang semakin renggang. Menunggu tiga puluh menit sisa waktu perjalanan menuju stasiun akhir tujuan, Stasiun Bogor Kota Beriman.
Sekelumit cerita kehidupan manusia kereta, antara Bogor dan Jakarta. Setiap hari terulang tanpa ada jeda. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bertahun-tahun demikianlah adanya. Aku sering merenung, ini salah siapa. Tak ada jawaban pasti hanya teringat ajaran agama, ”Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya”.
***
Eko Hardjanto
Tagged: pakuan, pemimpin, Renungan 11 November 2008
(Tulisan ini dibuat sebelum RUU Pornografi disahkan)
***
Dalam diskusi kecil bernuansa politik bersama teman sempat terlontar sebuah pendapat saya pribadi:
” Kepentingan dan ideologi politik tidak seharusnya bertentangan dengan kebaikan dan keadilan universal “
Diskusi ini dipicu oleh hingar bingar pro-kontra sebuah RUU Pornografi, sebuah RUU yang pembahasannya begitu kental nuansa politik. Sebuah RUU yang menghadirkan dua kubu massa yang sama-sama loyal. Menghiasi hampir semua media massa.
Nuansa politik lahir ketika arogansi dan apriori politik, khususnya arogansi dan apriori politik yang bernafaskan ideologi, menjadi faktor dominan dalam penentuan sebuah kebijakan. Karena arogansi dan apriori itu maka semua nilai kebaikan dan keadilan, yang seharusnya menjadi obyektif suatu pembahasan kebijakan, menjadi kabur dan bias.
Pembahasan sebuah RUU sebagai sebuah perangkat hukum pengatur manusia seharusnya berlandaskan semangat kebaikan bagi orang banyak. Siapa penggagas dan apa ideologi politik di belakang RUU merupakan faktor sekunder yang sepatutnya tidak dipermasalahkan. Segenap silang pendapat dalam pembahasan RUU sepatutnya pula lebih dilandasi oleh nilai kebaikan dan keadilan universal, yaitu nilai-nilai yang dipahami semua orang sebagai sebuah kebaikan dan keadilan.
Seringkali apriori dan sentimen ideologi yang menyisihkan nurani kebenaran membuat bias segala harapan yang mengiringi bergulirnya pembahasan sebuah RUU. Fenomena inilah yang melahirkan nuansa politik di sekitar RUU Pornografi, yaitu nuansa politik ideologi.
Saya meyakini bahwa nuansa kebaikan dan keadilan universal harus tetap menjadi panglima dalam setiap aktifitas politik para pelakunya. Sejatinya, politik tidak identik dengan keburukan, ia hanyalah sebuah alat dalam mencapai tujuan. Ketika tujuan hanya semata-mata kemenangan dan kekuasaan maka politik akan menemukan jurang kenistaannya. Politik menjadi buruk muka karena kekerdilan jiwa para pelakunya dalam mencapai segenap tujuan tersebut.
Apakah keyakinan ini utopis?
Insya Allah tidak…
***
Eko Hardjanto
Tagged: ideologi, kekuasaan, Politik, politisi, pornografi, UU, UU Pornografi 10 November 2008
Sering saya temui dalam blog, milist, juga di beberapa situs jejaring sosial semacam Facebook dan Multiply, orang ramai membahas hingar bingar pemilu Amerika. Daya tariknya apalagi kalau bukan karena sosok Barrack Obama. Terutama setelah ia memenangi pemilu Amerika.
Dalam situs jejaring sosial Facebook, banyak politisi yang membuat page dan menuliskan profil diri mereka. Melalui page pula orang bisa menyatakan diri sebagai fans seseorang. Yang mencengangkan adalah banyak sekali orang Indonesia tertarik menjadi fans Barrack Obama.
Barrack Obama, lebih sering disebut Obama, memang fenomenal. Sosok kulit hitam ini tanpa disangka begitu dominan dalam banyak jejak pendapat pendahuluan pemilu Amerika. Ia berkesan cerdas dan santai. Berlawanan dengan pesaingnya John McCain yang lebih bernuansa ‘angker’ sebagaimana presiden Amerika saat ini George W. Bush.
Kesan cerdas, santai, dan bersahabat inilah yang membuat Obama disukai. Ia terkenal di mana-mana termasuk di Indonesia. Persepsi tentang Obama lekat sebagai tokoh pembaharu politik Amerika dari kejenuhan politik perang a la George W. Bush. Ditambah lagi masa kecil Obama pernah bersentuhan dengan Jakarta. Pada akhirnya sosok Obama menjadi idola banyak orang, termasuk di Indonesia.
Dalam diskusi pemilu Amerika di sebuah milist, seorang teman bahkan mengakui lebih excited mengikuti hingar bingar pemilu Amerika dibanding Indonesia. Diskusi itu terlihat seru dan hangat dilengkapi analisa kritis tentang siapa yang paling menguntungkan bagi Indonesia, Obama atau McCain.
***
Mengamati diskusi tentang situasi politik Amerika kemudian timbul pertanyaan:
-Mengapa bagi banyak orang politik Amerika lebih menarik dibanding politik di Indonesia?
-Mengapa banyak orang Indonesia terang-terangan menyatakan sebagai fans Obama? (jarang ditemui orang Indonesia berani terang-terangan mendukung salah satu politisi negerinya)
Berangkat dari sebuah analisa sederhana, beberapa faktor yang membuat ketertarikan orang Indonesia terhadapa fenomena politik Amerika adalah:
1. Amerika sebagai pusat perhatian dunia (center of the universe)
Apa pun yang terjadi di Amerika hampir pasti di dengar seluruh dunia. Blow-up berita pemilu Amerika akhirnya menimbulkan hingar bingar dunia. Semua orang terpusat pada berita itu, dan tanpa sadar ikut terjun dalam suka ria dukung mendukung dan analisa siapa yang terbaik, McCain atau Obama.
2. Amerika adalah trend.
Adalah sebuah gaya hidup jika mengikuti trend Amerika. Mengikuti trend menghasilkan pengakuan akan identitas diri. Termasuk dalam dukung mendukung calon presiden Amerika. Bukan gaya hidup, saat ini, jika anda menjadi fans SBY, Wiranto, Hidayat Nur Wahid, Amien Rais, atau Gus Dur, misalnya. Mendukung politisi Indonesia, bahasa gaul anak sekarang: ‘gak keren, ‘gak inspriring. Lain jika menjadi fans Obama: ‘keren’, ‘inspiring’, ‘intelek’, dan sebagainya.
3. Apatis kemudian apolitis.
Sikap apatis sebagian orang Indonesia terhadap politik dalam negeri lahir karena pemasungan demokrasi selama 32 tahun masa orde baru. Ditambah lagi dengan perilaku politisi yang jauh dari kesan wakil rakyat. Sikap apatis ini masih berlanjut walau era reformasi telah lahir. Sikap apatis berkembang menjadi apolitis. Akhirnya terjun dalam hingar bingar politik Amerika yang demokratis menjadi lebih exciting dibandingkan mengikuti berita politik Indonesia. Terlebih lagi jika untuk berkiprah di dalamnya.
4. Apolitis kemudian apriori
Turunan dari point ke-3, apapun tingkah laku para politisi Indonesia seakan buruk di muka, kemudian tanpa analisa obyektif diabaikan dari perhatian. Sikap apriori ini menumbuhkan rasa enggan untuk mengikuti dan terlibat dalam politik. Hal ini tidak berlaku dengan politik Amerika. Banyak orang bilang apa yang dikatakan Obama adalah inspirasi. Sedikit yang apriori.
Teguran dan ironi sebuah bangsa.
Fakta bahwa politik Amerika lebih menarik untuk dinikmati dibanding politik Indonesia adalah sebuah teguran sekaligus ironi. Teguran terhadap para politisi Indonesia untuk serius membangun citra positif politik. Di sisi lain, fenomena ini adalah sebuah ironi bagi bangsa yang rakyatnya memimpikan perbaikan politik, namun dengan cara menjauhinya. Inilah ironi itu: sikap putus asa orang Indonesia.
Bicara tentang politik Indonesia, jujur harus kita akui telah banyak peningkatan prestasi dalam masa sepuluh tahun reformasi. Patut disayangkan jika masih tumbuh sikap apatis dengan perkembangan politik di tanah air. Obyektifitas dalam menilai kinerja politisi, itulah yang harus ditumbuhkan. Tidak semua wajah politik Indonesia buruk, masih ada yang menjanjikan. Sebaliknya tidak semua wajah politik Amerika inspiring, masih banyak cacat yang harus mereka perbaiki.
Saya kemudian menyimpulkan, banyak orang yang sederhana dalam melihat realitas politik. Tanpa mengingkari kehebatan seorang Obama, trend mengikuti hingar bingar politik Amerika seakan melupakan analisa kritis dan historis tentang bagaimana umumnya kebijakan luar negeri presiden Amerika, terlepas siapa presiden-nya. Sebaliknya, sikap apatis, apolitis, dan apriori dengan dunia politik Indonesia seakan menunjukkan ketidak pedulian dengan kemajuan politik negeri sendiri, dan seakan menafikan tokoh-tokoh inspiring di dalam negeri.
Saya teringat perkataan seorang politisi dari tanah air, “Kami bukanlah kumpulan malaikat yang selalu benar, namun juga bukan kumpulan setan yang selalu salah”. Kepedulian orang Indonesia terhadap kemajuan tanah air adalah juga kepedulian mereka untuk berperan serta dalam politik negeri. Amerika dengan Obama memang ‘wah’ dan ‘inspiring’. Tapi jangan malu kemudian buang muka dengan kondisi politik di tanah air.
Harapan masih dan akan selalu ada. Perubahan di tanah air diawali dari gerak tangan kita, orang Indonesia. Jika diskusi Amerika dan Obama begitu mengharu biru dunia maya, akankah kita berlari dari peran serta politik tanah air kelahiran sendiri?
Saya terkesan dengan sebuah ungkapan bijak terhadap pentingnya peran serta masyarakat terhadap politik di tanah air,
“Lebih baik meyalakan lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan…”
***
Eko Hardjanto
Tagged: Amerika, Obama, Politik, reformasi 7 November 2008